Eddy W. Angkanata

FREEDOM is our GOAL

BABI DALAM ARTI TER-SENDIRI

Saturday, May 2, 2009 at 10:49pm

Ini bukanlah kisah Imajiner tapi merupakan kisah nyata. Terjadi kira2 akhir 90an.  Sebuah pengalaman pribadi saya ini seringkali saya jadikan ilustrasi ketika sedang berdialog tentang “HALAL & HARAM”.

Bahwa suatu ketika saya ikut rombongan pariwisata dengan tujuan Jakarta, Bogor, Bandung dan beberapa tempat lainnya. Acara ini digagas oleh Bpk. Dasa’ad Gustaman SH (sekarang Kholifah Shiddiyah) dibawah bendera CV. DASA JAYA (waktu itu masih berkantor di Jl. Brawijoyo 52, Surabaya)

Rombongan ini terdiri dari karyawan dan karyawati CV. DASA JAYA. Sebelum berangkat saya oleh Bpk. Dasa’ad Gustaman diperkenalkan dengan seorang bernama Shodiq asal probolinggo.

Teman-teman memberitahu saya bahwa Bpk. Shodiq ini (40th)adalah seorang yang memiliki pondok daerah probolinggo alias seorangkyai. Ketika Bus hendak berangkat ada acara ritual yaitu doa bersama untuk keselamatan. Beliau, Bpk Shodiq itu memimpin acara doa.

Oo…saya baru ngerti alasan beliau diajak pariwisata. Saya dan beliau duduk di jok paling depan sisi kiri. Sementara itu The Big Bos (hehehe) yaitu Bpk. Dasaad Gustaman beserta keluarga naik pesawat ke Jakarta. Usai acara ritual bus berangkat. Riuh-rendah celotehan serta joke ber-aroma 17 th keatas mengisi perjalanan.

Pk. 02 pagi yang terdengar hanya deru mesin. Mereka sdh pada ‘lewat’ semua. Posisi duduk cowok atau cewek sudah amburadul gak karuan karena kecapekan kali. Menjelang masuk pintu tol Cikampek, pagi hari, jalan mulai macet. Bus berjalan tersendat-sendat, padat merayap dalam arti sesungguhnya. Disisi kiri bus yang kami tumpangi, terpaut satu mobil, ada pickup membawa babi dgn full kapasitas. Babi2 tersebut masing2 ditempatkan didalam keranjang. Bus kami dan pickup tersebut terus berjalan bersebalahan dgn gerak yang sangat lambat. Mau tidak mau babi2 tersebut adalah pemandangan yang menyita perhatian. Gemes dengan situasi spt ini aku berinisiatif membuat pertanyaan seputar babi : “Teman2…”,  kataku sambil berdiri menghadap mereka layaknya seorang instruktur, “mengapa agama islam mengharamkan pemeluknya makan babi…?”, lanjut saya.

“Cak dju…!”, balas seorang teman bernama sri (ps. keling surabaya) “babi itu diharamkan karena mengandung cacing pita…” Yang lain menimpali, “Karena mengandung kolesterol yang sangat tinggi…”. Koq standart banget sih jawabannya, pikir saya dalam hati.
Lalu saya membalas: “Jawaban kalian tidak salah…tapi saya tidak puas dengan jawaban tersebut…bolehkan kan aku tidak puas, pemilik pertanyaan ini kan saya…semau gue dong…”. selorohku memancing intermezo.  Lalu tiba2 “Kalau tidak puas silakan makan babi2 babi itu…!!”
Teman2 tau siapa yang menyebutkan kalimat itu…? Dia adalah Bpk. Shodiq, ya Bpk. Shodiq yang mengucapkan kalimat tersebut.

Aku terjengah, kemudian kembali duduk disebelah beliau. Tentu dengan susana bathin yang kaku.

Aku berpikir cara terbaik untuk menjawab sekaligus mencairkan situasi. Pandanganku kemudian terantuk pada beberapa bungkus kacang kulit dibawah jok pak sopir. Aku mengambilnya tentu saja setelah minta pada pemiliknya. Bungkus saya buka lalu saya tawarkn kpd beliau. Kami makan kacang bersama. Kulit dikupas…biji dimakan.  Sementara pickup dengan babi2nya masih berjalan beriringan dengan bus kami. Pelan2 suasana antara saya dan beliau mulai mencair.

“Pak Shodiq…kacang ini mempunyai kulit dan isi..manusia mempunyai badan dan nyawa..al qur’an juga ada dhohir dan ada bathinnya..Allah juga bersifat lahir dan bathin..syariat adalah ajaran agama yang berhubungan dengan jasmaniah…sedang haqeqat adalah ajaran yang berhubungan dengan bathiniah…”

“Terus…?”, tanya beliau. “Otomatis larangan agama itu bersifat lahir dan bathin…perintah agama itu juga bersifat lahir dan bathin..contohnya, sholat adalah perintah yang bersifat lahir sedang khusyu’ adalah perintah yang bersifat bathin…berzinah adalah larangan yang bersifat lahir dan dan sombong adalah larangan yang bersifat batihin…”, kataku bak seorang muballigh kenamaan.

“Masalah babi..”, tanya beliau. Ini memang pertanyaan yang saya pancing.  “Pak Shodiq”, jawabku,” Babi itu dari segi dzatnya memang diharamkan bagi kita orang islam, karena mengandung hal2 yang membahayakan bagi kesehatan tubuh..dengan tidak makan daging babi maka tubuh kita sudah mendapatkan manfaat dari larangan tersebut..yaitu terbebas dari penyakit yang ditimbulkannya..tetapi (nah lu..) kalau kita tidak makan babi hanya karena takut pada penyakit yang dikandungnya maka sesungguhnya kita tidak menjahui larangan Allah tp menjahui penyakit..ini tidak memiliki nilai ibadah karena tidak dengan niat menjahui larangan Allah tapi menjahui penyakit”, Pak Shodiq mulai kesemsem dengan ulasanku.  Aku melanjutkan khutbahku: “Tetapi apa manfaatnya bagi bathin kita dengan tidak makan daging babi..?” Aku menyulut rokok. Boleh kan gaya2 dikit, lalu melanjutkan,”Pembawaan originial babi sangat kotor..air yang sdh bercampur dengan kotorannya diminum, tidur diantara kotoran..nah, perilaku ini seperti ini secara filosofi haram bagi kita…kita tidak boleh hidup dalam kubangan dosa..dalam kejahatan..sifat lai yang khas bagi hayawan bernama babi itu ialah…apabila ekor mereka ditarik kebelakang dia malah maju kemuka..tapi kalau pantatnya didorong kemuka…dia justru mundur kebelakang…sifat babi seperti ini adalah sifat yang tidak Sami’na Wa Atho’na (mendengar kemudian taat) tapi sifat Sami’na Aa Asyoina (mendengar kemudian khianat) sifat2 seperti ini HARAM ‘dimakan’ oleh jiwa kita..kalau kita memliki sifat Sami’na Wa Asyoina maka sesungguhnya kita telah ‘makan babi’ dalam praktek Metafisika walaupun yuridisnya kita menjauhi daging babi….!!! “, kataku,

“Dari mana sampean memperolah ilmu seperti ini…?”, tanya beliau beberapa jurus kemudian. “Saya memperoleh ilmu seperti ini dari gedung persegi empat…”, jawabku. “Lalu..?”, beliau memutar leher kearahku. Sementara bus sudah meluncur kencan dijalan tol.

“Aku memperoleh ilmu ini dari tempat yang tidak dibatasi oleh dinding…”, tidak perlu aku terjemahkan karena dia seorang pembina utama dipondok pesantren miliknya. Kami terus bersoal tercengang. Bus terus meluncur deras kearah ancol.

Tiba di ancol kami menginap di hotel REMAJA (entah skrg masih ada tidak hotel tersebut) Usai istirahat aku dan beliau keluar mengambil air wudlu, beliau mempersilahkan aku dgn tangannya untuk lebih dulu mengambil air wudlu.

Selesai wudlu kami masuk musholla. Wahai apa yang terjadi…? Beliau juga mempersilahkan saya menjadi imam sholat. Cak dju yang tidak memiliki style seorang santri ini jd imam sholat? Ya, Cak Dju jadi Imam Sholat, beliau makmum.  kalau beliau silau dengan ilmu yang saya miliki jelas salah..ilmu bisa mudah diperoleh di buku2…di radio, tv dan lain2nya.

Tetapi kekayaan jiwa, ketangguhan jiwa, kwalitas jiwa, kwalitas keimanan sama sekali tidak bisa diperoleh dari buku…tapi dari kehidupan, dari ujian, dari cobaan dan dari tempaan2 berbagai persoalan…kwalitas jiwa dan keimanan inilah yang harus kita segani bukan ilmunya…
Betapa banyaknya ilmuwan2 yang gagal ditengah kehidupan masyarakat sebab jiwa mereka ternyata rapuh…

Ditulis berdasar kisah nyata.

A. Djauhari

(di-edit mesti belum dapat izin dari Cak Dju), sorry Cak saya suka this post :)

July 1, 2009 - Posted by | Social

No comments yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.