Eddy W. Angkanata

FREEDOM is our GOAL

New BlackBerry Messenger 5.0 untuk 83XX, 8900, 9000, Tour dan Strom (leaked version)

Blackberry Messenger ini masih dalam versi Leaked atau boleh dibilang masih un-official tapi tidak ada salahnya mencoba, harap berhati-hati melakukan upgrade BBM versi sebelumnya ke dalam versi 5.0 ini, sebaiknya lakukan BackUp terlebih dulu buat jaga-jaga.

PERHATIAN : “Jika anda kehilangan daftar contact BBM anda kami tidak bertanggung jawab, instalasi ini menjadi RESIKO anda sendiri”

BBM v.5.0 untuk  “83XX”

BBM v.5.0 untuk “8900″

BBM v.5.0 untuk “9000″

BBM v.5.0 untuk “Tour”

BBM v.5.0 untuk “Strom”

Anda memerlukan password untuk meng-ekstrax filenya, instalasi dilakukan via Desktop Manager ke Gadget anda cari file ber-ekstension .alx

July 18, 2009 Posted by | Gadget or Digital Life | | 1 Comment

BABI DALAM ARTI TER-SENDIRI

Saturday, May 2, 2009 at 10:49pm

Ini bukanlah kisah Imajiner tapi merupakan kisah nyata. Terjadi kira2 akhir 90an.  Sebuah pengalaman pribadi saya ini seringkali saya jadikan ilustrasi ketika sedang berdialog tentang “HALAL & HARAM”.

Bahwa suatu ketika saya ikut rombongan pariwisata dengan tujuan Jakarta, Bogor, Bandung dan beberapa tempat lainnya. Acara ini digagas oleh Bpk. Dasa’ad Gustaman SH (sekarang Kholifah Shiddiyah) dibawah bendera CV. DASA JAYA (waktu itu masih berkantor di Jl. Brawijoyo 52, Surabaya)

Rombongan ini terdiri dari karyawan dan karyawati CV. DASA JAYA. Sebelum berangkat saya oleh Bpk. Dasa’ad Gustaman diperkenalkan dengan seorang bernama Shodiq asal probolinggo.

Teman-teman memberitahu saya bahwa Bpk. Shodiq ini (40th)adalah seorang yang memiliki pondok daerah probolinggo alias seorangkyai. Ketika Bus hendak berangkat ada acara ritual yaitu doa bersama untuk keselamatan. Beliau, Bpk Shodiq itu memimpin acara doa.

Oo…saya baru ngerti alasan beliau diajak pariwisata. Saya dan beliau duduk di jok paling depan sisi kiri. Sementara itu The Big Bos (hehehe) yaitu Bpk. Dasaad Gustaman beserta keluarga naik pesawat ke Jakarta. Usai acara ritual bus berangkat. Riuh-rendah celotehan serta joke ber-aroma 17 th keatas mengisi perjalanan.

Pk. 02 pagi yang terdengar hanya deru mesin. Mereka sdh pada ‘lewat’ semua. Posisi duduk cowok atau cewek sudah amburadul gak karuan karena kecapekan kali. Menjelang masuk pintu tol Cikampek, pagi hari, jalan mulai macet. Bus berjalan tersendat-sendat, padat merayap dalam arti sesungguhnya. Disisi kiri bus yang kami tumpangi, terpaut satu mobil, ada pickup membawa babi dgn full kapasitas. Babi2 tersebut masing2 ditempatkan didalam keranjang. Bus kami dan pickup tersebut terus berjalan bersebalahan dgn gerak yang sangat lambat. Mau tidak mau babi2 tersebut adalah pemandangan yang menyita perhatian. Gemes dengan situasi spt ini aku berinisiatif membuat pertanyaan seputar babi : “Teman2…”,  kataku sambil berdiri menghadap mereka layaknya seorang instruktur, “mengapa agama islam mengharamkan pemeluknya makan babi…?”, lanjut saya.

“Cak dju…!”, balas seorang teman bernama sri (ps. keling surabaya) “babi itu diharamkan karena mengandung cacing pita…” Yang lain menimpali, “Karena mengandung kolesterol yang sangat tinggi…”. Koq standart banget sih jawabannya, pikir saya dalam hati.
Lalu saya membalas: “Jawaban kalian tidak salah…tapi saya tidak puas dengan jawaban tersebut…bolehkan kan aku tidak puas, pemilik pertanyaan ini kan saya…semau gue dong…”. selorohku memancing intermezo.  Lalu tiba2 “Kalau tidak puas silakan makan babi2 babi itu…!!”
Teman2 tau siapa yang menyebutkan kalimat itu…? Dia adalah Bpk. Shodiq, ya Bpk. Shodiq yang mengucapkan kalimat tersebut.

Aku terjengah, kemudian kembali duduk disebelah beliau. Tentu dengan susana bathin yang kaku.

Aku berpikir cara terbaik untuk menjawab sekaligus mencairkan situasi. Pandanganku kemudian terantuk pada beberapa bungkus kacang kulit dibawah jok pak sopir. Aku mengambilnya tentu saja setelah minta pada pemiliknya. Bungkus saya buka lalu saya tawarkn kpd beliau. Kami makan kacang bersama. Kulit dikupas…biji dimakan.  Sementara pickup dengan babi2nya masih berjalan beriringan dengan bus kami. Pelan2 suasana antara saya dan beliau mulai mencair.

“Pak Shodiq…kacang ini mempunyai kulit dan isi..manusia mempunyai badan dan nyawa..al qur’an juga ada dhohir dan ada bathinnya..Allah juga bersifat lahir dan bathin..syariat adalah ajaran agama yang berhubungan dengan jasmaniah…sedang haqeqat adalah ajaran yang berhubungan dengan bathiniah…”

“Terus…?”, tanya beliau. “Otomatis larangan agama itu bersifat lahir dan bathin…perintah agama itu juga bersifat lahir dan bathin..contohnya, sholat adalah perintah yang bersifat lahir sedang khusyu’ adalah perintah yang bersifat bathin…berzinah adalah larangan yang bersifat lahir dan dan sombong adalah larangan yang bersifat batihin…”, kataku bak seorang muballigh kenamaan.

“Masalah babi..”, tanya beliau. Ini memang pertanyaan yang saya pancing.  “Pak Shodiq”, jawabku,” Babi itu dari segi dzatnya memang diharamkan bagi kita orang islam, karena mengandung hal2 yang membahayakan bagi kesehatan tubuh..dengan tidak makan daging babi maka tubuh kita sudah mendapatkan manfaat dari larangan tersebut..yaitu terbebas dari penyakit yang ditimbulkannya..tetapi (nah lu..) kalau kita tidak makan babi hanya karena takut pada penyakit yang dikandungnya maka sesungguhnya kita tidak menjahui larangan Allah tp menjahui penyakit..ini tidak memiliki nilai ibadah karena tidak dengan niat menjahui larangan Allah tapi menjahui penyakit”, Pak Shodiq mulai kesemsem dengan ulasanku.  Aku melanjutkan khutbahku: “Tetapi apa manfaatnya bagi bathin kita dengan tidak makan daging babi..?” Aku menyulut rokok. Boleh kan gaya2 dikit, lalu melanjutkan,”Pembawaan originial babi sangat kotor..air yang sdh bercampur dengan kotorannya diminum, tidur diantara kotoran..nah, perilaku ini seperti ini secara filosofi haram bagi kita…kita tidak boleh hidup dalam kubangan dosa..dalam kejahatan..sifat lai yang khas bagi hayawan bernama babi itu ialah…apabila ekor mereka ditarik kebelakang dia malah maju kemuka..tapi kalau pantatnya didorong kemuka…dia justru mundur kebelakang…sifat babi seperti ini adalah sifat yang tidak Sami’na Wa Atho’na (mendengar kemudian taat) tapi sifat Sami’na Aa Asyoina (mendengar kemudian khianat) sifat2 seperti ini HARAM ‘dimakan’ oleh jiwa kita..kalau kita memliki sifat Sami’na Wa Asyoina maka sesungguhnya kita telah ‘makan babi’ dalam praktek Metafisika walaupun yuridisnya kita menjauhi daging babi….!!! “, kataku,

“Dari mana sampean memperolah ilmu seperti ini…?”, tanya beliau beberapa jurus kemudian. “Saya memperoleh ilmu seperti ini dari gedung persegi empat…”, jawabku. “Lalu..?”, beliau memutar leher kearahku. Sementara bus sudah meluncur kencan dijalan tol.

“Aku memperoleh ilmu ini dari tempat yang tidak dibatasi oleh dinding…”, tidak perlu aku terjemahkan karena dia seorang pembina utama dipondok pesantren miliknya. Kami terus bersoal tercengang. Bus terus meluncur deras kearah ancol.

Tiba di ancol kami menginap di hotel REMAJA (entah skrg masih ada tidak hotel tersebut) Usai istirahat aku dan beliau keluar mengambil air wudlu, beliau mempersilahkan aku dgn tangannya untuk lebih dulu mengambil air wudlu.

Selesai wudlu kami masuk musholla. Wahai apa yang terjadi…? Beliau juga mempersilahkan saya menjadi imam sholat. Cak dju yang tidak memiliki style seorang santri ini jd imam sholat? Ya, Cak Dju jadi Imam Sholat, beliau makmum.  kalau beliau silau dengan ilmu yang saya miliki jelas salah..ilmu bisa mudah diperoleh di buku2…di radio, tv dan lain2nya.

Tetapi kekayaan jiwa, ketangguhan jiwa, kwalitas jiwa, kwalitas keimanan sama sekali tidak bisa diperoleh dari buku…tapi dari kehidupan, dari ujian, dari cobaan dan dari tempaan2 berbagai persoalan…kwalitas jiwa dan keimanan inilah yang harus kita segani bukan ilmunya…
Betapa banyaknya ilmuwan2 yang gagal ditengah kehidupan masyarakat sebab jiwa mereka ternyata rapuh…

Ditulis berdasar kisah nyata.

A. Djauhari

(di-edit mesti belum dapat izin dari Cak Dju), sorry Cak saya suka this post :)

July 1, 2009 Posted by | Social | Leave a Comment

Sebuah kisah tentang PASIR DAN BATU

Kisah ini menceritakan tentang dua sahabat yang berjalan melintasi gurun pasir Saat berjalannya waktu mereka mulai bertengkar dan yang satu menampar pipi sahabatnya Yang ditampar pipinya hatinya terluka, tapi tanpa berkata sepatah kata pun dia kemudian menulis di pasir :

“HARI INI SAHABAT BAIKKU MENAMPAR WAJAHKU”

Mereka meneruskan perjalanannya sampai menemukan sebuah oasis, dimana mereka memutuskan untuk beristirahat dan mandi. Tetapi orang yang wajahnya ditampar, terjebak di pasir penghisap dan tenggelam; tetapi sahabatnya berhasil menyelematkannya. Setelah pulih keadaannya, dia mengukir kalimat di sebuah batu :

“HARI INI SAHABAT BAIKKU TELAH MENYELAMATKAN HIDUPKU”

Orang yang telah menampar sahabatnya dan kemudian menolongnya, lalu bertanya :

“Setelah aku menampar kamu menulis di pasir, dan sekarang kamu menulis di batu, kenapa begitu?”

Sahabat yang ditanya menjawab :

“Ketika seseorang menyakiti, kita harus menuliskannya di pasir sehingga angin bisa memafkan kita dengan meniupnya lenyap tak terbekas” .

“Tapi saat orang melakukan kebaikan untuk kita, kita harus mengukirnya di batu; supaya tidak ada satu angin pun yang sanggup menghapuskan ingatan indah itu”.

BELAJARLAH UNTUK MENULISKAN KEPEDIHANMU DI PASIR DAN MENGUKIR PENGALAMAN BAIKMU DI BATU CADAS

Orang bijak berkata :

memerlukan waktu satu menit untuk bisa menemukan seseorang yang spesial, satu jam untuk bisa menghargainya, satu hari untuk bisa menyukai dan mengasihi. Tetapi dibutuhkan waktu seumur hidup untuk bisa melupakannya”.

Ciptakan waktu untuk kehidupan !
So bagaimana dengan anda semua???????

June 27, 2009 Posted by | Uncategorized | Leave a Comment

Segala Sesuatu Itu Mudah, Tergantung Mindset Anda

Jeanie BEVJennie S. Bev dikenal sebagai salah satu penulis, pengusaha, dan pengajar yang sukses berkarir di Amerika Serikat. Ia menjadi salah satu anak bangsa yang berhasil menaklukkan kerasnya medan persaingan di ranah global. Alumnus Fakultas Hukum Universitas Indonesia ini sekarang mantap berkarir di Kalifornia, Amerika Serikat. Sejumlah perusahaan dot.com sedang dia garap dan besarkan, dan sejumlah bisnis offline lainnya juga tengah dalam masa inkubasi. Ia juga aktif menulis di berbagai media di Indonesia, Singapura, Amerika, Kanada, Inggris, Perancis, dan Jerman. Lebih dari 900 artikel dalam bahasa Inggris telah dia tulis, dan tak kurang dari 64 buku dalam bahasa Inggris sudah dia terbitkan. Hebatnya, itu semua dia kerjakan di tengah-tengah kesibukannya mengurus bisnis dan masa-masa merampungkan studi doktoralnya.

Belakangan, profilnya banyak menghiasi sejumlah media massa lokal seperti majalah Fit, Femina, Bisnis Kita, Intisari, Chic, dll. Sebelumnya, Jennie juga sudah beberapa kali tampil di media massa internasional seperti Entrepreneur, Teen, People, Dong, Home Business, Canadian Business, Audrey, The Independent, dan San Fransisco Chronicle. Dan pada September 2006 lalu, Jennie merilis buku pertamanya dalam bahasa Indonesia yang berjudul Rahasia Sukses Terbesar. Buku motivasi tersebut mendapat sambutan cukup hangat di Indonesia dan masuk kategori buku laris.

Banyak sekali yang ingin Jennie lakukan, raih, dan berikan kepada sesama, bangsa, dan dunia. Begitulah yang tergambar dalam setiap tulisan maupun wawancara-wawancara yang dia berikan. Orang akan mudah melihat betapa kuatnya karakter Jennie hanya melalui tulisan-tulisan maupun wawancaranya. Ia termasuk sosok yang—berulang-ulang dan tanpa bosan-bosannya—meneriakkan supaya kita, sebagai sebuah bangsa, berani menjadi bangsa yang dignified, sebuah bangsa yang punya “harga diri kesatriaan”. Begitulah istilah dia. Dan tampaknya, anjuran Jennie itu akan semakin berkumandang dan banyak didengar oleh khalayak.

Berikut adalah wawancara Jojo Raharjo, seorang penulis lepas, dengan Jennie S. Bev yang dihadirkan khusus untuk pengunjung setia Pembelajar.com.

Jennie, bisa Anda ceritakan, bagaimana kisah Anda meninggalkan Indonesia untuk memutuskan merantau ke Amerika Serikat?
Setelah lulus FHUI tahun 1994, saya berangkat dulu ke UC Berkeley, tepatnya di tahun 1995, kemudian sempat kuliah di beberapa institusi lainnya. Mungkin ini bersumber dari isi hati saya yang selalu mencari dan gelisah.
Saat itu keberangkatan saya dibarengi dengan kekhawatiran akan kakek saya yang sedang menderita colon cancer (kanker usus besar), maka tidak lama kemudian saya memutuskan kembali dan menemani kakek saya sampai beliau meninggal. Pada 1997 saya memutuskan menikah dengan Beni Bevlyadi, suami saya sekarang. Setahun kemudian dengan keadaan ekonomi Indonesia yang morat-marit (krismon), saya bertekat untuk memperbaiki kehidupan dengan memutuskan merantau. Amerika Serikat menjadi tujuan karena saya sudah kenal negeri ini cukup lama. Juga dengan kemampuan bahasa Inggris lisan dan tulisan yang lumayan, lebih mudah bagi saya untuk survive di sana dibandingkan dengan di Jerman, misalnya.
Sejak 1995 sampai masa krismon pra keberangkatan kedua saya untuk bermigrasi, saya aktif menulis di tabloid Kontan, The Jakarta Post, dan The Indonesian Observer untuk kolom opini. Ini juga dilakukan sambil bekerja di sebuah perusahaan printing dan publishing asal Jepang di Singapura dan juga mengajar di salah satu business college di Sunter, Jakarta. Saya ingat artikel pertama saya dimuat di The Jakarta Post, judulnya “End to Thesis Requirement Sets Us One Step Back.” Saya masih simpan fotokopinya. Namanya juga artikel pertama, jadi dikenang terus.
Bekal saya merantau saat itu hanyalah biaya hidup untuk satu tahun, TOEFL score nyaris sempurna, dan keyakinan membara bahwa di manapun saya berada, di situlah rumah saya dan di situlah sukses bisa diraih. Amerika Serikat sebagai negara adidaya dengan kaum intelektualnya yang sangat maju dalam banyak bidang merupakan daya tarik tersendiri bagi saya.
Bukankah untuk menjadi seekor singa, maka kita perlu bergaul dengan singa pula? Jadilah saya memilih Kalifornia, bukan negara bagian lainnya. Kalifornia sendiri adalah kekuatan ekonomi dunia nomor enam, dan satu-satunya yang bukan negara (hanya negara bagian). Di antara singa ini, terutama di Silicon Valley, saya bertarung. Menang atau kalah, sekarang sudah mulai bisa dijawab.

Banyak orang berpandangan sinis kepada orang Indonesia yang sukses dan tidak kembali ke Tanah Air. Sering terungkap kata-kata seperti “anasionalis” dan lain-lain. Bagaimana pandangan Anda terhadap anggapan seperti itu?
Saya mengerti pandangan seperti ini, karena saya juga sering “dituding” demikian. Pertama-tama, kita perlu melihat dengan jujur bagaimana Indonesia sebagai tempat untuk eksistensi. Sebagai contoh, seorang profesor ahli fusi maupun ahli kloning, misalnya, apa yang bisa ia lakukan di Indonesia? Tanpa ada laboratorium yang memadai, apa yang bisa diperbuat? Pemerintah Indonesia sendiri mungkin tidak punya dana untuk membangun laboratorium super canggih seperti itu.
Di sisi lain, banyak orang Indonesia yang sukses di luar negeri namun dipandang “anasionalis” tersebut sebenarnya merupakan duta bangsa Indonesia secara tak resmi. Bukankah dengan berkarya di bidangnya masing-masing, ia memberikan sumbangsih yang membawa nama harum bangsa Indonesia di dunia internasional? Daripada profesor ahli kloning itu kembali ke Indonesia dan malah cuma bekerja serabutan saja, bukankah ia lebih baik berkarya maksimal di laboratorium yang sungguh-sungguh istimewa dan lebih dari memadai untuk berkarya luar biasa? Siapa lagi yang bangga dengan keharuman nama profesor ahli kloning itu? Indonesia, bukan? Bukan Amerika Serikat lho, jangan salah.
Coba lihat betapa banyak ahli komputer asal India di Silicon Valley? Mereka sampai mati pun akan diidentifikasi sebagai orang India, bukan sebagai seorang Amerika karena mereka memang berasal dari India. Dengan keberhasilan mereka sebagai pekerja intelektual, nama India sampai sekarang demikian harum sebagai hub intelektual dunia yang sangat diperhitungkan. Dan mereka menjadi jembatan bagi perusahaan-perusahaan India yang reputasinya baik untuk bergerak di Amerika Serikat karena adanya dukungan moril.
Bagi Indonesia untuk sungguh-sungguh mengikuti perkembangan dunia dan supaya diperhitungkan dunia internasional, kita mesti bergerak dari luar Indonesia. Tujuannya tidak lain supaya dunia internasional mengenal Indonesia sebagai hub intelektual, bukan hanya pengekspor pembantu rumah tangga. Memang ini juga sudah baik, namun alangkah baiknya kalau Indonesia juga dikenal sebagai negara penghasil kaum intelektual?
Saya sendiri walaupun bukan profesor ahli fusi maupun kloning, mungkin adalah satu-satunya orang asal Indonesia telah memecahkan beberapa barrier sekaligus. Dalam beberapa bidang, karya saya jauh lebih baik dari mayoritas orang asal Amerika. Dan tentu saja, mereka juga tahu asal-muasal saya, yaitu saya orang yang dilahirkan di Indonesia. Mudah-mudahan karya-karya kecil saya memberi arti sedikit bagi Indonesia dan Asia.
Kembali ke soal nasionalisme, apakah dengan kembali ke Indonesia lantas kerja serabutan lebih baik daripada tinggal di luar negeri namun mengharumkan nama bangsa dengan karya-karyanya? Anda sendiri yang bisa menjawab.
Saya sendiri cinta Indonesia, terutama mereka yang kurang mampu dan terlantar. Sekarang, dengan penghasilan cukup di luar Indonesia, bukankah cukup banyak yang bisa saya lakukan? Misalnya, sekarang saya punya beberapa anak asuh dan bermaksud untuk menyumbangkan seluruh (100 persen) royalti dari buku Rahasia Sukses Terbesar bagi anak-anak yatim piatu dan terlantar. Saya tidak bisa lakukan banyak hal untuk kemanusiaan kalau saya masih kerja sebagai dosen di Indonesia, yang nota bene gajinya mungkin untuk biaya hidup pas-pasan saja.
Nasionalisme bukan berarti letak geografis seseorang, namun bagaimana arti sumbangsih seseorang terhadap Tanah Air dan dunia internasional. Harumkah nama Indonesia dengan Anda berada di Indonesia? Adakah manfaat nyata bagi Indonesia dengan Anda berada di Indonesia? Jika Anda bisa memilih hidup dan berkarya maksimal dengan pengakuan internasional di luar negeri, namun di Indonesia profesi Anda tidak bisa mendapatkan tempat berarti yang lantas membuat Anda kerja serabutan, mana yang dipilih? Anda pasti bisa menjawab.
Kapan saya kembali ke Indonesia? Dalam dua tahun ini, setelah kuliah yang sudah lama terbengkalai ini selesai dan setelah saya menyerap sudah cukup banyak ilmu yang pantas untuk dikontribusikan kembali kepada Indonesia. Saat ini saya sedang luar biasa sibuk dengan segala macam inkubasi bisnis, menulis disertasi, dan memperkuat fisik supaya lebih prima lagi. Dengan hidup gaya militan seperti ini, saya selalu terfokus dengan pencapaian setiap hari.
Nanti ketika saya kembali ke Indonesia, saya tidak akan tanggung-tanggung lagi. Tunggu tanggal mainnya, kawan. Kalau saya tidak akan kembali ke Indonesia, untuk apa saya memperkenalkan diri sekarang? Bukankah lebih baik saya “diam-diam” saja, toh prestasi saya sudah cukup lumayan di luar negeri?

Buku Rahasia Sukses Terbesar ini bukan buku pertama Anda. Bahkan, buku elektronik Guide to Become a Management Consultant menyabet finalis 2003 EPPIE Award. Sebenarnya, nilai-nilai apa yang Anda ingin sampaikan dalam setiap karya Anda?
Buku ini merupakan buku ke-64, ada beberapa buku lagi yang sedang diedit dan belum dirilis, namun kebanyakan dalam bahasa Inggris. Buku ini adalah buku pertama saya dalam bahasa Indonesia.
Setiap karya saya merupakan cernaan saya, biasanya saya mensimplifikasikan konsep-konsep rumit menjadi sederhana. Itulah sebabnya saya tidak pernah menyebut diri saya sebagai seorang jurnalis, karena saya mencerna dulu apa yang saya terima, baru dituangkan kembali dalam bentuk tulisan. Saya adalah an opinionated writer, kecuali ketika menulis artikel-artikel ilmiah.
Nilai yang ingin saya sampaikan hanya satu: segala sesuatu itu mudah, intinya adalah mindset dan bagaimana meng-approach sesuatu. Hal-hal yang rumit mesti disederhanakan dan dijalankan tanpa banyak neko-neko. Maju terus dengan hati yang lurus dan bersih. Bantu mereka yang kurang beruntung di sepanjang perjalanan, supaya bisa sama-sama mencapai gunung kesuksesan.

Apa cita-cita Anda pada masa kecil? Dan, saat ini, bagaimana perasaan Anda, ketika melihat pencapaian-pencapaian Anda? Apakah Anda merasa puas, menyesal, kurang optimal, atau yang lain?
Cita-cita saya tidak pernah tetap, selalu berganti-ganti. Terakhir saya memutuskan untuk menjadi seorang ahli hukum supaya bisa menegakkan keadilan. Ternyata, hukum tidak bisa menjamin keadilan (law is not justice), namun kepentingan-kepentingan para pihak yang dijustifikasikan (law is to justify actions).
Malah saya bisa lebih banyak berbuat tanpa dengan embel-embel “lawyer,” karena dengan menjadi diri sendiri, saya bisa bertindak dengan membawa misi dan visi sendiri, tidak dibatasi oleh satu perspektif saja (dalam hal ini hukum). Sebagai pemegang gelar Master di bidang pendidikan, saya merasa lebih berguna karena kita semua selama masih bernafas merupakan pembelajar. Kita selalu belajar setiap saat. Pendidikan MBA saya juga sangat berguna supaya bisa survive di dunia usaha, yang hasilnya juga bisa dinikmati oleh mereka yang sungguh-sungguh memerlukan bantuan.
Nggak perlu neko-neko, kerja, belajar, dan memberi. Begitu terus berulang-ulang, itulah pencapaian hidup saya yang terbesar.

Di antara berbagai kutipan orang-orang terkenal yang menjadi inspirasi Anda, ada juga yang berasal dari Soe Hok Gie, “Lebih baik menjadi orang yang diasingkan, daripada menjadi orang munafik.” Apa arti pernyataan itu bagi Anda?
Saya menjunjung tinggi kebenaran dan etika, itu juga salah satu “rahasia” saya bisa survive di negara asing, bahkan sudah cukup memadai dan kadang-kadang berkelimpahan. Saya tidak suka neko-neko, yes or no. Pertahankan itu. Jika tidak sesuai dengan kata hati, saya tidak akan berpura-pura, namun tentu saja saya tetap perlu sopan terhadap orang lain. Namun sikap saya yang tidak suka kemunafikan ini tidak bisa dibilang selalu menguntungkan saya, karena kadang kala jadi senjata makan tuan.
Tetapi saya puas karena saya tidak menipu diri sendiri. Lebih baik orang lain tidak suka kepada saya karena kejujuran saya, daripada saya tidak suka kepada diri sendiri karena kemunafikan. Bukankah begitu?

Anda membentuk komunitas tersendiri untuk mengapresiasi karya Anda. Semacam fans club. Apa visi dan tujuan dari kumpulan orang-orang dalam komunitas ini?
Saya manusia biasa, perlu motivasi hidup juga. Dengan kehadiran mereka yang menyambut positif karya-karya saya, semakin termotivasi untuk berkarya semakin baik dan semakin banyak. Mudah-mudahan mereka pun bisa saling belajar satu sama lain, sehingga bisa saling memperkaya batin.

Semakin hari, kecenderungan orang berkomunikasi dengan teknologi informasi semakin membesar. Saat ini, ribuan situs dibuat setiap harinya. Jarak menjadi bukan masalah dengan fasilitas internet. Bagaimana Anda menyikapi fenomena ini? Positively or Negatively?
Internet adalah femonena luar biasa. Dulu ketika aktif menulis untuk tabloid Kontan, saya pernah menulis tentang Universitas Virtual dan Menjadi Eksekutif Portabel. Kedua hal itu sekarang sedang saya lakoni dan menjadi kegiatan sehari-hari. Sepuluh tahun yang lalu, kedua konsep itu seperti hidup di awang-awang, malah tidak sedikit orang-orang dekat saya yang mencibirkan bibirnya mendengar pandangan saya tersebut.
Internet membuka demikian besar kesempatan untuk bergerak. Di mana pun berada. Indonesia pun bisa bergerak melalui Internet, sepanjang etika tertinggi dijunjung dan perkembangan teknologi diikuti dengan seksama. India dan Cina adalah contoh nyata, bahkan Filipina pun yang mungkin dulu tidak begitu diperhitungkan, sudah menjadi pelaku bisnis di Internet. Menjadi pemain global sudah bukan impian lagi, intinya tinggal mempelajari aspek-aspek nonteknis dalam bisnis, seperti mempelajari budaya, etika kerja, dan tata krama. Juga kemampuan berbahasa Inggris, yang merupakan bahasa utama di Internet.
Sudah saatnya kita tidak lagi memandang nasionalisme didasarkan dengan bahasa dan letak geografis, namun karya kita yang diakui dunia internasional dan bagaimana kita memberikan kontribusi kepada mereka yang sungguh-sungguh memerlukan uluran tangan dengan tulus. Kita semua bisa bergerak banyak melalui Internet, seperti Fatih Syuhud dengan blog-nya dalam bahasa Inggris dan Wimar Witoelar dengan situs Perspektif Baru-nya yang merupakan public education. Dengan Internet, ini juga merupakan cara mudah dan murah untuk mencapai pasar internasional. Tinggal apa dan bagaimana kita menjual karya atau produk kitalah yang menentukan hasilnya nanti.

Dalam buku Anda terbaru, Rahasia Sukses Terbesar, Anda menekankan pentingnya konsep memberi. Seberapa jauh konsep ini berpengaruh dan telah mengubah banyak hal dalam kehidupan Anda?
Sangat besar. Di negara asing, saya harus membangun hidup dari bawah titik nol. Tanpa kenal siapa pun, saya harus memperkenalkan diri sebagai orang yang bermutu, berprestasi, dan baik hati dengan etika kerja tinggi. Kalau tidak demikian, apa saya bisa bertahan hidup? Jelas tidak.
Di mana pun di dunia ini, orang beretika lebih mudah dipercaya. Apalagi orang yang senang memberi. Ketika saya belum mengenal satu media pun di Amerika Serikat, saya memperkenalkan diri sebagai penulis yang meresensi buku. Apa saja saya baca, sepanjang buku-buku tersebut dikirim ke alamat apartemen saya. Tujuannya supaya semakin banyak media yang kenal saya, dan mudah-mudahan semakin mudah saya mengetuk pintu. Sampai saat ini saya sudah membaca dan meresensi 1.200 buku dan sudah puluhan penerbit dan editor yang mengenal saya karena hasil “memberi keringat secara cuma-cuma ini”.
Sampai saat ini, saya memberi di dalam batas kemampuan saya, baik tenaga mau pun materi. Namun sebagai seseorang yang sangat disiplin dan keras hati, saya lebih suka memberi pancing satu kali daripada ikan siap saji berkali-kali. Dengan memberi pulalah kita mengingatkan diri kita sendiri akan kelimpahan kita, sehingga alam bawah sadar kita “mencetak” blue print pikiran berkelimpahan ini yang akan terproyeksi ke luar dalam segala bidang yang kita geluti.

Konon, salah satu kelemahan sebagian besar orang Indonesia adalah iri melihat kesuksesan orang lain dan suka melihat penderitaan orang lain. Apa sebenarnya yang terjadi dengan kebanyakan orang di sini, dan bagaimana mengubah mentalitas seperti itu?
Pernyataan ini sama sekali tidak benar, karena bukan orang Indonesia saja yang suka merasa kurang nyaman dengan kebahagiaan orang lain. Ini terjadi di mana saja, namun lebih tampak nyata di negara-negara yang secara ekonomi agak lemah. Ini adalah sifat manusia pada umumnya, mungkin mereka ini yang 80 persen pecundang. Ingat Teori Pareto: 80 persen dan 20 persen. Dua puluh persen yang pemenang meminimalisasi mentalitas seperti itu, namun sisanya kebanyakan ya begitu.
Ini perlu diakui dan disadari dulu, sebelum berusaha mengubahnya. Kita bisa mulai dari hal-hal kecil seperti meningkatkan dignity (harga diri kesatriaan) seseorang. Misalnya, jika tidak diberi, jangan meminta. Juga jangan mengambil melebihi yang diberi maupun yang dibutuhkan. Kalau saja para politisi kita punya mentalitas dignified seperti ini, korupsi dengan sendirinya tidak terjadi karena perbuatan korupsi merupakan perbuatan mengambil dan meminta.
Saya dan suami merantau dengan cara yang sangat mandiri. Suami saya berlari ke tempat kerja ketika kami belum mampu membeli mobil. Saya sendiri naik kendaraan umum sambil menggigil kedinginan di halte bus. Kami hidup super hemat karena saat itu kami tidak mampu untuk membeli barang-barang untuk kenikmatan, namun kami tidak pernah satu kali pun meminta dari orang lain, tidak juga dari tunjangan pemerintah AS yang dikenal cukup dermawan. Kami bekerja luar biasa giat, luar biasa cerdas, dan hidup luar biasa hemat tanpa melupakan dignity.
Intinya adalah harga diri dengan semangat kesatriaan. Dengan adanya hal ini, iri dan dengki berbalik menjadi semangat untuk maju dan memberi.

Apa saja sebenarnya faktor-faktor yang diperlukan untuk mencapai kesuksesan? Bagaimana peran mimpi, alias visi yang kita tanamkan sejak dini untuk memacu hidup kita?
Sukses sendiri perlu didefinisikan dengan benar. Menurut pandangan saya, sukses adalah mindset. Saya adalah sukses, sukses adalah saya. Bukan pencapaian materi. Bukan pula prestasi yang kasat mata. Sukses adalah tentang being and becoming. Seorang sukses adalah seseorang yang bisa bertahan hidup tanpa kehilangan dirinya sendiri di dalam segala situasi.
Saat tidak punya uang, seorang sukses tidak lantas menyebut dirinya “tidak sukses.” Sukses sebagai mentalitas alias mindset memberikan kekuatan untuk menanggung kegagalan, walaupun berkali-kali. Untuk apa berubah menjadi pesimistis kalau sukses adalah Anda sendiri? Apa pun yang Anda kerjakan, jika dilakukan dengan mindset sukses, akan memberikan buah sukses pula pada akhirnya.
Seperti saya dulu yakin sekali dengan kehebatan sekolah virtual dan kerja virtual walaupun dicerca habis-habisan, ini merupakan suatu visi yang menjadi “blue print” keberadaan saya sendiri. Saat itu saya belum terpikir untuk menjadi pelaku, namun dengan menjadikan keyakinan ini menjadi bagian penting dalam diri saya, sekarang saya menjadi pelaku yang cukup diperhitungkan di pusat intelektual dunia ini.

Anda juga memiliki ketertarikan yang kuat pada dunia film. Apa keinginan tertinggi untuk mengembangkan diri dalam bidang film? Menjadi produser atau penulis skenario misalnya.
Betul, saya sudah berguru kepada Robert McKee. Beliau ini pencetak pemenang Piala Oscar dengan puluhan eks muridnya yang berhasil gemilang di dunia perfilman. Saya sendiri sangat tertarik dengan film-film dokumenter atau film-film ala dokumenter.
Saya ingin memperlihatkan kepada dunia seperti apa dunia ini di mata saya. Saat ini saya sedang menegosiasikan pembuatan film di Perancis. Idealnya dalam dua tahun di muka, saya bisa berkarya di dunia perfilman di Indonesia, namun izinkan saya belajar dulu di Hollywood, karena sekali lagi pusat intelektual dunia letaknya di AS. Dengan belajar dari para pemenang ini, mungkin ada sedikit sumbangsih yang bisa saya tularkan ke Indonesia nanti.

Selama hampir 10 tahun berkelana di AS, bagaimana Anda melihat pola hidup dan tingkat disiplin orang Indonesia dan pekerja di negara barat pada umumnya—soal ketepatan waktu, kebiasaan mengeluh, inovasi, dll?
Kembali ke pribadi masing-masing, namun yang jelas pekerja-pekerja di negara barat kebanyakan mempunyai sifat yang grateful (bersyukur) selama masih ada pekerjaan dan lebih profesional dalam menjalankan tugas. Tentu saja tidak semua pekerja Indonesia buruk dan pekerja AS lebih baik, dan sebaiknya kita tidak men-stereotype pekerja asal Indonesia dan negara-negara lain.
Semangat belajarnya, mungkin, yang membedakan tingkat produktivitas. Etika kerja yang berasal dari “tidak mau mengambil apa yang bukan haknya atau miliknya” mungkin juga yang membedakan pekerja negara-negara maju dengan yang berasal dari Indonesia. Sekali lagi, hal ini mesti ditunjang dengan dignity alias harga diri kekesatriaan, yang mungkin perlu ditingkatkan lagi di Indonesia.

Dengan sumber daya alam dan sumber daya manusia seperti saat ini, bagaimana Anda melihat prospek bangsa ini (Indonesia) ke depan? Anda optimis, negeri ini bisa bangkit bersaing dengan macan-macan Asia, dan negara-negara dunia ketiga lain yang terus berkembang?
Beberapa tahun lalu, Malaysia dan Vietnam belajar dari Indonesia soal membudidayakan padi. Namun, sekarang kita sudah ketinggalan dari mereka. Apa masalahnya? Mungkin bukan tempatnya saya untuk menunjukkan kepada siapa pun, namun izinkan saya untuk memberi masukan membangun.
Pertama, kestablian keamanan negara sangat menentukan perkembangan ekonomi. Kedua, pengembangan infrastuktur (jalan-jalan dan telekomunikasi) merupakan pendukung utama roda ekonomi dan kebudayaan. Ketiga, mindset sejajar dengan bangsa lain yang sungguh-sungguh didukung oleh prestasi anak negeri. Saat ini kebanggaan Indonesia kurang didukung dengan prestasi-prestasi nyata. Tidak perlu melulu dalam bidang olah raga, namun lebih penting lagi di bidang teknologi, komunikasi, dan intelektual.
Dan tentu saja tidak perlu tunggu bantuan pemerintah untuk berbuat sesuatu. Jalankan saja yang terbaik yang bisa Anda lakukan. Apabila Anda hanya bisa memasak, jadilah tukang masak yang paling baik selingkungan Anda. Jika Anda hanya pintar main gitar, jadilah pemain gitar paling sohor sekota tempat tinggal Anda. Intinya jadilah diri Anda yang terbaik, bukan hanya sekadar bernapas untuk hari ini.

Seluruh royalti dari buku ini akan Anda sampaikan kepada anak-anak terlantar yang membutuhkan bantuan. Apa misi di balik niat mulia ini?
Membangun awareness untuk memberi. Jika kita berkelimpahan, tunjukkan kelimpahan kita itu dengan memberi, bukan dengan menjadi super pelit dan sangat memproteksi kekayaan materi kita. Saya berharap supaya semakin banyak orang-orang yang merasa berkelimpahan untuk selalu memberi, bukan hanya ketika agama mengharuskan, namun karena panggilan hati.
Juga, dengan semakin banyak kita memberi bagi mereka yang sungguh-sungguh memerlukan, maka semakin mulia arti uang bagi kita semua. Selama ini orang memandang uang sebagai sebagai sesuatu yang negatif dan mengandung konotasi maksiat. Ini salah besar. Sebagaimana pisau, uang adalah netral. Bagaimana arti uang sebenarnya tergantung oleh apa yang kita perbuat dengan uang itu.
Tentu saja kita perlu selektif dalam memberi karena akan banyak semut yang mengerumuni gula, bukan? Hati-hatilah dalam memberi supaya kita tidak membangun bentuk kemalasan dan kepecundangan baru.

Banyak orang cenderung gamang menghadapi bisnis baru yang akan dirintisnya. Sering bayangan akan kegagalan lebih besar daripada optimisme akan keberhasilan. Ada tips untuk mereka?
Kembali lagi, sukses adalah mindset. Kegagalan di satu bidang atau satu kali saja, tidak membuat Anda seorang pecundang. Sambutlah kegagalan sebagai salah satu cara untuk belajar dan berkaca apa saja yang perlu diperbaiki lagi. Seorang sukses tidak pernah takut gagal, malah ia dengan suka cita dan rendah hati menggunakan kesempatan ini untuk belajar. Jangan takut gagal, karena dengan Anda takut gagal, sebenarnya Anda takut menjadi sukses.[jr]  

by : Jennie S. Bev

[Pembelajar.Com::]

June 27, 2009 Posted by | Management | Leave a Comment

Windows 7 versus Snow Leopard: How much do upgrades really cost?

June 26th, 2009

In one of its brilliant “I’m a Mac” ads recently, Apple lampooned the complexity of Microsoft Windows with a dizzying display of fine print that eventually filled up the screen and covered up both characters.

I thought of that ad when I saw Apple’s recent announcement that it was going to make its next Mac OS X upgrade, Snow Leopard, available as a $29 upgrade. That sounds so much better than the broad range of prices that Microsoft is going to charge its customers for Windows 7 upgrades. Too bad the $29 upgrade is not that simple. In fact, according to my analysis of Apple’s own sales figures, 57% of Apple’s customers who bought and paid for new Macs in the past five years are ineligible for those cheap upgrades.

That hasn’t stopped casual observers and even some seasoned analysts from falling for Apple’s ruse. Michael Gartenberg, for example, issued this critique in response to Microsoft’s announcement of Windows 7 pricing:

Apple showed the way. Snow Leopard is also not [a] major update but rather an enhanced version of Leopard. With an upgrade price of $29, that’s about where MSFT should be for the Home Premium version of 7…

Yes, $29 for an OS upgrade sounds like a great deal, if you qualify. But do you? I looked at the fine print for this offer, and was shocked—shocked, I tell you—to discover that the majority of Mac owners don’t qualify for that pricing. In fact, a significant number of Mac owners won’t be able to upgrade to Snow Leopard at any price.

Details after the jump.

According to Microsoft, roughly 90% of Windows users purchase the operating system preinstalled with a new PC. And if you ignore the Hackintosh crowd, 100% of Mac owners purchase OS X with a new Mac. Any PC purchased with Windows XP or Windows Vista since October 2001 qualifies for a discounted upgrade to Windows 7, for a price as low as $50. But only a select group of Mac owners qualify for those $29 upgrades. A large number will have to pay $169 for the privilege of installing Snow Leopard, and another large group of Apple customers won’t be able to install Snow Leopard at all.

So where do you stand? Find the date when you bought a new PC or Mac and look in the table below. The Windows 7 numbers represent the cost of a Home Premium upgrade, which will be available for the next two weeks for $50 and then will be set at an estimated retail price of $120 after the OS ships on October 22. The upgrade cost is $0 from June 26, 2009 to January 31, 2010, thanks to Microsoft’s Windows 7 Upgrade Option program.

PC/Mac purchase date

Windows 7 upgrade cost

Snow Leopard upgrade cost

October 2001 – Jan 2006 $50 – $120 Not supported
Jan 2006 – Sep 2007 $50 – $120 $158-169
(Intel only)
Oct 2007 – Jun 2009 $50 – $120 $29
Jun 2009 or later $0 $0

Both Microsoft and Apple have announced technology guarantee programs for new PCs or Macs ordered before the new OS comes out. The Mac program starts on June 8, Microsoft’s program on June 26.

Apple’s core market for the $29 upgrade is its most loyal group of hardware buyers, who’ve already paid their “Apple tax” at the highest marginal rate. You qualify for that $29 upgrade price if you are one of the 15 million or so people who spent $1000 or more for a new Mac in the past 21 months. (Yes, I’m leaving out the Mac Mini, which sells for under a grand but represents a minuscule fraction of Apple’s sales—less than 7% according to one analyst’s rough estimate.) Any Mac purchased after October 1, 2007 satisfies the upgrade criteria: an Intel-based system running Mac OS X version 10.5 (Leopard).

That leaves out a huge number of Apple’s customers.

From January 2006 through September 2007, according to Apple’s financial reports, 11.1 million people purchased new Macs. All of them came with OS X Tiger installed. If you paid Apple $129 for a copy of Leopard at some point along the way and your system has an Intel processor, you qualify for the right to pay Apple an extra $29, making your total upgrade cost $168 $158 [math error corrected]. If you own one of those 2006-2007 PCs and are still running Tiger, the upgrade to Snow Leopard will cost you $169, which is the price of the Mac Box Set.

If you purchased a new Mac before January 9, 2006, you can’t upgrade to Snow Leopard at any price. That’s because systems built before that date were based on the PowerPC processor, which is not supported by Snow Leopard. According to Apple’s own numbers, more than 8.2 million customers bought Macs in 2004 and 2005. All are now officially orphaned by Apple. And that number understates the true count. Apple didn’t complete its transition to the Intel platform until August 2006, and its likely that some older PowerPC-based machines were still in the sales channel in early 2007.

Apple has been selling its OS upgrades for $129 since the introduction of OS X in 2001. Microsoft has been similarly consistent with its pricing throughout Windows’ lifespan. If Windows 7 didn’t exist, how much would Apple be selling Snow Leopard for? (Hint: The correct answer has three digits.)

Apple’s $29 pricing decision is a clever one. They’re counting on gullible reporters and analysts to make oversimplified comparisons with Windows 7, and they’re hoping to goad Ballmer and Company into reacting with a slashed price of their own. If Microsoft is smart, they won’t take the bait.

Posted by Ed Bott

June 27, 2009 Posted by | Community | Leave a Comment

Make Indonesia To Be Better

Sekarang ini Indonesia sedang berpesta Demo-Crazy :) , sebuah keadaan yang sungguh Ironis demi menetapkan sebuah arah Bangsa ini justru menjadi ajang pamer dan janji yang sebenernya sudah sangat sering kita dengar.

Lalu sebenarnya apa dengan banyaknya peserta PEMILU (partai) seperti sekarang ini justru akan mempermudah perbaikan yang memang diperlukan oleh BANGSA ini?, menurut pendapat saya pribadi sih kok TIDAK ya (ini bukan skeptis/underestimate) tapi kok rasanya justru masyarakat bawah seperti saya ini kok jadi +bingung harus memilih yang mana.

Kemudian kok rasanya dengan banyaknya partai peserta pesta DEMO-CRAZY ini kok rasanya ada juga yang hanya berusaha mencari “UANG” karena biar bagaimanapun juga partai perserta yang lolos seleksi mendapatkan DANA BANTUAN untuk operasional kampanye dan lain sebagainya, lihat saya karena banyaknya partai politik yang selalu mengatasnamakan rakyat Indonesia, sampai mereka sendiri kelihatan bingung mau kampanye dengan model seperti apa? aneh-aneh deh rasanya.

Kita jadi heran (menurut saya seh :) ), kenapa dengan UUD kita kenapa dengan pasal 33 kita kenapa dengan moral bangsa ini? saya hanya membayangkan jika saja seluruh dana yang dialokasikan untuk pesta DEMO-CRAZY sekarang ini digunakan untuk pembangunan bangsa, masyarakat serta NEGARA tercinta ini (karena sejatinya uang tersebut justru dari kita masyarakat ini = pajak tentunya) justru untuk hal-hal yang memang urgent untuk disegerakan pemberdayaan masyarakat kita, kalau memang bahwa negara juga bertanggung jawab dengan masyarakat (anak-anak terlantar, fakir miskin dsb) apakah tidak ada jalan lain selain dihambur-hamburkan seperti sekarang ini.

Berapa banyak yang bisa kita Develope jika seluruh alokasi dana tersebut (apapun nama dana tersebut) untuk pembangunan misal saja perusahaan BUMN yang seluruhnya adalah untuk menampung jumlah penduduk Indonesia yang justru sekarang ini banyak menganggur (pengangguran mengambang, halah apa sih istilah yang bener, pengangguran tidak terlihat, dengan usia potensial yang masih banyak yang tidak tahu harus bagaimana menghadapi keadaaan sekarang ini.

Saya jadi teringat dengan iklan GERINDRA yang mengatakan bahwa ada ber-trilliun rupaih uang “kita” justru banyak diberikan secara tidak langsung ke orang-orang, badan-badan, yang seharusnya bisa dihindari dengan strategi yang lain (mungkin istilah stimulus lebih baik digunakan untuk masyarakat yang sedang kesusahan sekarang ini dengan menciptakan lapangan pekerjaan yang se-sungguhnya buat masyarakat INDONESIA tercinta ini), hehehehe ini bukan berarti saya akan mendukung GERINDRA tapi yang jelas iklan itu BENAR adanya (ini masih menurut saya yang hanya orang pinggiran)

Akhirnya saya juga teringat dengan iklan salah satu rokok, yang menceritakan ketika berada di Bandara dan ingin mengunakan “angkutan’ untuk pergi dari bandara justru kelihatan seperti banyaknya partai politik sekarang ini, banyak yang menawarkan yang “enak-enak” “aneh-aneh” kadang malah kok kelihatan konyol, seakan-akan kita ini masih sangat bodoh untuk bisa menyikapi hal-hal sekarang ini.

Akhir kata, bagaimana menurut pendapat anda dengan kondisi NEGARA INDONESIA yang diperjuangkan dengan DARAH, TETES AIR MATA, PENGORBANAN TAK TERKIRA ini, semoga saja kita segera menemukan SATRIO PININGGIT (halah apa sih artinya itu??)

April 4, 2009 Posted by | Umum | | Leave a Comment

Just Confidence

Nobody can really guarantee the future. The best we can do are size up the chances, calculate the risk involved and walk with confidence

March 8, 2009 Posted by | Uncategorized | | Leave a Comment

   

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.